Tag Archive | jari lebih tajam dari pedang

“Jarimu Harimaumu”

jarimu harimaumu, jari lebih tajam dari pedang, mulutmu harimaumu, thought, writing, media social, bijak bermedia sosial, instagram, facebook, pinterest, path, twitter, hati hati bermedia sosial, blog, this & that, bleebloob, agoda.com, hotels.com, berrybenka

Media sosial saat ini sepertinya sudah menjadi alat yang paling ampuh tidak hanya untuk mendapatkan/menyebarkan berita, promosi/jualan, gosip, kampanye, dan lain-lain, khususnya di Indonesia. Setiap orang paling tidak mempunyai satu akun di media sosial, apakah itu twitter, facebook, instagram, path, pinterest, tumblr, flickr, atau yang lainnya. Lebih banyak orang cari berita atau gosip di twitter/instagram/facebook dibanding dibanding menonton di TV karena memang berita di social media lebih up to date dan mudah diakses. Sekarang ini orang lebih banyak mencari berita/gosip di akun lambe turah, atau akun “lambe-lambe” lainnya dibanding di tv. Apalagi semakin kesini semakin banyak akun-akun berita/gosip dengan nama-nama yang spektakuler yang seolah-olah mewakili satu bangsa/satu umat, namun menampilkan berita-berita yang saling berlawanan. Semakin banyak kita baca, semakin pusing kita dibingungkan dengan berita-berita yanng beredar yang cenderung saling berlawanan. Yang memprihatinkan adalah jika kita yang orang dewasa saja pusing dengan berita simpang siur seperti ini, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana jika mereka membaca dan menyerap berita dari satu sisi dan meyakini kebenaran berita tersebut? Jika berita itu benar dan mendidik, tidak masalah, tapi bagaimana jika berita yang sudah terlanjur diyakini tersebut merupakan berita yang menyesatkan atau mendoktrinasi? Tidak bisa membayangkan anak-anak tersebut akan menjadi orang dewasa seperti apa nantinya.

Perkembangan media sosial dan kemudahan akses internet memang “anugerah”, jika kita bisa memanfaatkan untuk tujuan positip. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa “anugerah” itu saat ini sudah menjadi alat yang tidak dapat dikontrol. Orang dengan mudah sekali menulis kata-kata caci maki, teror, fitnah dan lain-lain. Aksi saling hujat, saling hina, merendahkan, dan mengolok-olok sesama di media sosial menjadi hal yang biasa. Semakin banyak nilai-nilai etika berkomunikasi yang dilanggar. Bahkan semakin banyak kejahatan muncul karena berawal dari pertikaian di media sosial. Kalau dulu orang bilang “mulutmu harimaumu”, sekarang sudah menjadi “jarimu harimaumu”. Jika kita  dulu sering mendengar “lidah lebih tajam dari pedang”, mungkin nanti akan muncul “jari lebih tajam dari pedang”.

Akankah kita diam saja membiarkan fenomena negatif ini mempengaruhi anak-anak kita, dan membentuk mereka menjadi orang dewasa yang lupa dengan tata krama sopan santun dan adat ketimuran yang terkenal itu? Semoga hal ini bisa menjadi bahan renungan bersama bagi para orang tua dan orang dewasa lainnya.